Tahun Ajaran Baru telah tiba, bersama gema bunyi bel madrasah yang dipenuhi oleh sejuta harapan dan semangat baru. Seperti tradisi setiap tahunnya, saat ini MTs Al-Iman menyambut gelombang peserta didik/santri baru yang berbondong-bondong memasuki gerbang sekolah. Sejumlah kurang lebih 400an santri baru tercatat sebagai bagian dari Al-Iman dari berbagai wilayah se-Indonesia, apakah kamu salah satunya?
Sedikit menukil hadits nabi Muhammad saw[1]. Yaitu:
أُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina
Bahwa Rosulullah saw. Islam mendorong umatnya untuk rajin belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Meski sejauh apapun tempatnya, kita harus pandai beradaptasi demi meraih ilmu yang bermanfaat. Begitu juga santriwan/santriwati yang rela jauh-jauh belajar di MTs Al-Iman bukan?
Setiap dari kita memahami bahwa perpindahan sekolah bukanlah hal yang mudah. Semua kegiatan baru, kamar baru, teman baru, baju baru, mata Pelajaran baru yang asing dan sedikit menakutkan. Oleh karena itu, melalui artikel ini kami berkomitmen untuk memberikan dukungan yang mendalam dalam proses adaptasi atau orientasi santri.
Apakah kamu pernah merasa cemas, bingung, dan frustrasi ketika masuk ke sekolah baru? Jika iya, berarti kamu mungkin mengalami culture shock. Apa itu culture shock?
Pengertian culture shock
Culture shock adalah perasaan di mana seseorang merasa tertekan serta terkejut ketika berhadapan dengan lingkungan dan budaya baru. Seseorang yang mengalami culture shock, biasanya akan merasa cemas, bingung, frustasi. Sebab, dia kehilangan tanda, lambang, dan cara pergaulan sosial yang diketahuinya dari kultur asal. Menurut Aang Ridwan (2016), culture shock adalah kondisi saat seseorang mengalami goncangan mental dan jiwa, yang disebabkan adanya ketidaksiapan dalam menghadapi kebudayaan asing dan baru baginya. [2]
Penyebab Culture Shock
Penyebab culture shock beragam, mulai dari perbedaan budaya, seperti sosial, perilaku, adat istiadat, agama, pendidikan, dan bahasa. Selain itu, culture shock adalah kondisi yang juga dapat terjadi akibat faktor intrapersonal, seperti keterampilan komunikasi, pengalaman, dan karakteristik fisik.
Sederhananya, dari yang sebelumnya satu kamar satu orang, kita harus berbagi dengan 30 orang di pesantren. Dari yang sebelumnya mata Pelajaran SD/MI hanya 10 saja, memasuki jenjang MTs kita di kenalkan pada 30 jenis mata Pelajaran. Kita dituntut mengikuti dan beradaptasi pada kebiasaan baru bangun pagi buta hanya untuk mengantri mandi dan lain-lain, pasti berat bukan?
Tahapan Culture Shock
Terdapat beberapa tahapan culture shock yang umumnya dialami oleh individu yang berpindah ke lingkungan budaya yang berbeda[3]. Kamu bisa sambil mengecek sudah sampai mana tahapanmu?
- Tahap bulan madu (honeymoon phase): Tahap awal di mana seseorang merasa senang dan antusias dengan lingkungan baru.
- Tahap krisis (crisis phase): Tahap di mana individu mulai merasakan kecemasan, kebingungan, dan ketakutan akibat perbedaan budaya yang signifikan.
- Tahap penyesuaian (adjustment phase): Tahap di mana individu mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan mampu berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
- Tahap bi-budaya (bi-cultural phase): Tahap di mana individu mulai merasa nyaman dan mampu berfungsi dengan baik dalam lingkungan budaya baru.
- Tahap integrasi (integration phase): Tahap di mana individu benar-benar mampu berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.
Cara Mengatasi Culture Shock
Jadi, apabila kita sedang merasa di kondisi tidak baik-baik saja karena kaget dengan lingkungan baru, beberapa hal yang bisa menjadi cara mengatasi culture shock adalah sebagai berikut[4]:
- Menyadari dan mengakui perasaan tidak nyaman: Penting untuk mengakui bahwa perasaan tidak nyaman adalah hal yang wajar saat mengalami culture shock. Jika tinggal di pesantren maupun di ruangan kelas mungkin bisa berbagi cerita dengan teman sebaya menceritakan perasaannya. Percayalah itu sangat membantu!
- Membuka diri terhadap hal baru: Berpikiran terbuka dan menerima perbedaan budaya dapat membantu dalam proses adaptasi.
- Terlibat langsung dengan budaya tersebut: Terlibat dalam kegiatan dapat membantu seseorang memahami dan merasakan lingkungan baru. Semua kegiatan yang sudah di jadwalkan oleh pesantren bisa diikuti dengan senang hati ya adik-adik
- Bersosialisasi: Mencari teman baru dan terlibat dalam komunitas dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman dan terhubung dengan lingkungan barunya.
- Berpikiran terbuka: Membuka pikiran untuk mempelajari hal baru dan berdamai dengan keadaan baru dapat membantu meringankan beban mental saat menghadapi perbedaan budaya.
Mudah-mudahan catatan kecil ini sedikit banyak membantumu, ingat tujuan dari rumah ya… semoga kita dapat mewujudkan cita-cita nabi Muhammad saw. Menjadi mukmin yang kuat dan berilmu
[1] As-Syakhowi, Syamsudiin. Al Maqosid Al-Hasanah. Dar kutub al-ilmiyah, Beirut: Lebanon. Hlm 125
[2] Ridwan, Aang. Komunikasi Antarbudaya. Pustaka Setia, Bandung. 2016
[3] ibid
[4] culture-shock-penyebab-dan-cara-menghadapinya (https://www.ocbc.id/id/article/2023/11/30)
