Moral merupakan seperangkat aturan atau prinsip yang digunakan oleh individu atau kelompok yang dijadikan tolak ukur antara benar dan salah, baik dan buruk, pantas dan tidak pantas dalam suatu tindakan atau tingkah laku. Moral atau bisa disebut juga etika bisa bersumber dari agama dan budaya.
Etika dan moral sendiri merupakan ajaran yang mengajarkan usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana dia harus hidup, dan dari sana mau menjadi pribadi yang baik (Haris, 2010: 35)
Fungsi adanya etika atau moral dalam Masyarakat adalah mengatur tingkah laku individu atau kelompok supaya setiap perilaku/tindak tanduknya dapat diterima oleh masyarakat.
Krisis moral bagi generasi milenial merupakan keadaan di mana mereka kurang peka terhadap perilaku atau tingkah laku mereka, apakah sudah sesuai atau belum dengan norma yang berlaku. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat mempunyai andil yang sangat besar dalam krisis moral pada generasi milenial, mereka dapat mengakses semua informasi dari seluruh penjuru dunia tanpa ada penyaringan sama sekali. Kemudahan mereka untuk mengakses semua informasi dan tontonan yang terkadang tidak benar dan tidak etis. Hal tersebut menyebabkan para generasi milenial kehilangan akar budaya dan pondasi moral untuk bisa membedakan mana yang benar dan salah.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis moral ini di antaranya:
- Pendidikan moral/etika/sopan santun dari lingkup keluarga, lingkungan keluarga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak, karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenali dan paling dekat dengan anak baik secara fisik maupun batin.
- Setelah faktor keluarga, kemudian faktor yang berpengaruh juga terhadap degradasi etika dan moral pada diri generasi Milenial adalah faktor lingkungan atau pergaulan generasi Milenial itu sendiri (Hidayat, 2019). Memilih lingkungan pergaulan yang baik, pemilihan pergaulan juga sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Terkadang ada anak yang pondasi moral dan etika dari keluarga sudah baik, tetapi Ketika masuk dalam pergaulan luar kurang jeli dalam memilih teman pada akhirnya akan terpengaruh juga. Hal ini sejalan dengan isi serat Wulangreh pupuh Kinanthi pada ke-3 yang bunyinya:
- Yen wus tinitah wong agung, aja sira gumunggung dhiri, aja raket lan wong ala, kang ala lakunireku, nora wurung ngajak-ajak, satemah anenulari. (Jika kau sudah ditakdirkan menjadi pembesar, janganlah menyombongkan diri, jangan kau dekati orang yang memiliki tabiat buruk dan bertingkah laku tidak baik, sebab suka atau tidak suka (hal itu) akan menular padamu)
- Bijak dalam memanfaatkan teknologi informasi. Berkembanganya teknologi informasi yang semakin pesat sebenarnya tidak hanya berdampak negatif, banyak manfaat (positif) yang dapat diperoleh dengan berkembangnya teknologi tersebut, tergantung bagaimana kita menggunakannya.
- Meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah swt. Jika setiap individu memiliki iman dan takwa dalam pribadi mereka, tentunya mereka sudah memiliki dasar yang kuat dalam pondasi moral, karena dengan adanya iman dan takwa, mereka selalu memiliki keyakinan bahwa semua tindak tanduk yang mereka lakukan disaksikan oleh Allah swt.
DAFTAR PUSTAKA
• Haris, Abd. 2010. Etika Hamka. Kontruksi Etik Berbasis Rasional-Religius. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta
• Hidayat, Riki Hendri. 2019. Degradasi Moral Generasi Muda. Kompasiana.com. [Online]. 16 Mei 2019. Available at: https://www.kompasiana.com/rikihendrihidayat/5cdc4e9e95760e0df52cd3f4/degradasi-moral-generasi-muda. [Diakses: 27 Juni 2024]
